Sabtu, 26 Mei 2012

Psikologi Islam

A Konsepsi Psikologi Islam
Integrasi Islam dan Psikologi ternyata tidak semudah yang dibayangkan sebaba secara tidak disadari integrasi itu memadukan dua kewenanganbidang keilmuan.Kewenangan pertama pada label islam yang sarat akan ilmu-ilmu keislaman sedang kewenangan kedua pada label psikologi yang sarat akan cabang-cabang psikologian.Psikologi islam disini adalah kajian tentang islam dilihat dari pendekatan psikologi.Oleh karena itu jika kita ingin mengetahui hakekat manusia maka Al Qur’an tetapi juga merefleksikan kejadian-kejadian di alam semesta.
  1. Integrasi Psikologi Islam dengan Psikologi Barat
Konsep utama mengenai fitrah adalah mempercayai dan mengakui Allah sebagai Tuhannya yang bersifat alamiah dan telah tertanam sejak zaman azali namun adanya perpaduan antara ruh dengan tubuh dalam tuntutan kehidupan dunianya membuat pengetahuan akan kedudukan Tuhan mengalami kelemahan. Maka dalam diri manusia dilengkapi dengan keresahan-keresahan dan godaan yang berlawanan arus dengan fitrah manusia. Perilaku umat islam tidak sepatutnya dinilai dengan kacamata teori psikologi barat yang sekuler karena keduanya memiliki frame yang berbeda dalam melihat realita. Fenomena perilaku yang menimpa umat islam akhir-akhir ini tidak mungkin dianalisis dengan teori-teori psikologi barat hal ini dapat dilihat dari kejadian senyumnya Amrozi saat difonis mati adalah sederetan perilaku yang unik dan membutuhkan analisis khusus dari teori psikologi islam, bila ditelaah dalam psikologi barat perilaku tersebut merupakan patologis sementara dalam psikologi islam diyakini sebagai perilaku yang mencerminkan aktualisasi diri. Uichol Kim seorang psikolog asal Korea mengkritisi psikologi barat yang menyamaratakan pandangan psikologi sebagai human universal dengan menawarkan menempatkan wahyu diatas akal yangpsikologi pribumi. Menurutnya manusia tidak cukup dipahami dengan teori psikologi barat karena psikologi barat hanya tepat untuk mengkaji manusia barat sesuai dengan kultur sekularnya yang melatarbelakangi lahirnya ilmu itu. Untuk memahami manusia di belahan bumi lain harus digunakan pula basis kultur dimana manusia itu hidup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep psikologi islam bertentangan dengan psikologi barat.
  1. Perdebatan Intern Mengenai Eksistensi Psikologi Islam
Pembahasan seputar psikologi islam bisa dikatakan masih sebatas lontaran-lontaran pemikiran. Menurut gagasan ini terasa belum sampai pada tataran ilmiah yang diharapkan namun beberapa pendahuluan karya-karya yang masih deskriptif ataupun try and error mulai bermunculan.Sejak awal sudah diduga bahwa tantangan terhadap pengembangan psikologi islam berasaldari kalangan ilmuan dan psikolog muslim sendirii yang umumnya belum bersedia menempatkan wahyu diatas akal dan menjadikan Al Qur’an sebagai tolok ukur kebenaran ilmiah psikologi. Reaksi mereka cenderung keras dan over critic terhadap perbedaan pandangan diantara kita sendiri,sikap yang kurang terbuka terhadap perbedaan pendapat ini seakan-akan melupakan petunjuk Rosulullah bahwa perbedaan pendapat diantara umat adalah rahmat.salah satu sudut pandang mengenai psikologi islami sejak awal teramati adalh pandangan dari kubu lebih senang menggunakan sebutan yang menginginkan psikologi yang islami benar-benar dijabarkan langsung dari konsep-konsep Al Qur’an mengenai manusia tanpa melibatkan teori,prinsip,konsep,dan hasil-hasil temuan psikologi yang sudah ada,keinginan sebagian pihak menghendaki dibangunnya suatu ‘’Grand Theory’’yang murni dibangun dari ‘’istilah-aksioma-dalil’’ dari dua sumber utama Al Qur’an dan Hadits serta hasil pemikiran tokoh islam. Disatu pihak mereka meyakini bahwa konsep yang paling benar dan mantap mengenai manusia terkandung dalam Al Qur’an dan Hadis tetapi lain pihak,kurangnya dialog intensif dan ‘’High Level’’dalam tataran ilmiah,sersuatta dukungan dari berbagai pihak yang masih berjalan sendiri-sendiri. Suatu pengetahuan keagamaan mereka pada umumnya rata-rata saja.Adakah titik temu diantara kedua kelompok rekan dialig tersebut? Dialog dan kerja sama diantara kedua kelompok rekan dialog akan menimbulkan sinergi luar biasa dalam pengembangan psikologi islam karena mustahil psikologi islam berkembang tanpa dasar-dasar keilmuan psikologi yang terintegrasi dengan konsep manusia menurut Al Qur’an,Al Hadis dan agama.

B. Konsep Psikologi Islami tentang ciri-ciri Manusia
Tugas utama manusia di dunia ini, di samping sebagai abdullah (hamba Allah), adalah sebagai khalifah di muka bumi (Qs. 2:30). Agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-sebaiknya, maka manusia dilengkapi dengan potensi-potensi (sejumlah ciri) yang memungkinkannya dapat memikul tugas tersebut. Menurut Djamaluddin Ancok (2004 : 157-160) Ciri-ciri tersebut meliputi : mempunyai raga yang sebagus-bagus bentuk, baik secara fitrah, mempunyai ruh, mempunyai kebebasan berkehendak, dan mempunyai akal. Ciri-cirinya adalah :
  1. Manusia mempunyai raga dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dengan rupa dan bentuk yang sebaik-baiknya, manusia diharapkan menjadi bersyukur pada Allah. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(QS. 95:4).
  2. Manusia itu baik dari segi fitrah sejak semula. Dia tidak mewarisi dosa asal karena Adam (dan Hawa) keluar dari surga. Salah satu ciri utama fitrah adalah manusia menerima Allah sebagai Tuhan. Dari asalnya manusia itu memiliki kecenderungan beragama, sebab beragama itu sebagian dari fitrahnya. Sebab-sebab yang menjadikan seseorang tidak percaya terhadap Tuhan bukanlah sifat dari asalnya, tetapi ada kaitannya dengan alam sekitarnya.
  3. Manusia mempunyai Ruh.al Quran secara tegas menyatakan bahwa kehidupan manusia tergantung pada wujud ruh dalam bandannya. Tentang bagaimana wujudnya, bagaimana bentuknya, dilarang untuk mempermasalhaknnya (QS. 17:85).
  4. Manusia memiliki kebebasan kemauan atau kebebasa berkehendak, yaitu kebebasan utnuk memilih tingkah lakunya sendiri, kebaikan atau keburukan.
  5. Manusia memiliki akal. Akal dalam pengertian Islam, bukan otak, melainkan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal dalam islam merupakan ikatan dari tiga unsur, yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Akal adalah alat yang menjadikan manusia dapat melakukan pemillihan antara yang betul dan salah. Allah selalu memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya agar dapat memahami fenomena alam semesta ini.
  6. Manusia memiliki nafsu. Nafsu sering kali dikaitakan dengan gejolak atau dorongan yang terdapat dalam diri manusia.

Pada dasarnya sifat asal manusia adalah baik dan manusia selalu ingin kembali kepada Kebesaran Sejati (Allah).








Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar